Tuesday, February 16, 2021

A SHORT STORY : CINTANYA DEENA

Di keramaian pasar malam…

"Eh, Hai"

"Hai, eh maaf siapa ya?"

"Masa ga ingat?"

"Mmm"

"Aku Hafiz"

Deena, perempuan yang di sapanya adalah Deena. Sebenarnya Deena tahu kalau itu Hafiz, bagaimana dia bisa lupa. 

"Aku Hafiz, teman SMA kamu". 

"Ohhhh, Hafiz, iya-iya". 

"Nah,ingatkan?"

"Iya, ingat2."

"Astagfirullah, salamnya lupa. Assalamualaikum.."

"Eh iya, waalaikumsalam.  Masya Allah udah beda ya"

"Beda gimana maksudnya?"

"Penampilannya udah beda, gaya bicaranya juga."

"Oh iya, haha Alhamdulillah. Deena juga udah beda,lebih tertutup, bicaranya lebih teratur.Masya Allah"

"Emang dulu gimana?''

"Eh gak gimana2, (astagfirullah salah ngomong๐Ÿ˜“)"

"Oh iya2"

"Mmm" 

"Krik-krik,krik"

"Haha, sendirian aja?"

"Gak sama teman, tadi kesini angkat telfon"

"Oh gitu, iya tadi Hafiz ngeliat kaya Deena jadi kesini pastiin, eh iya bener Deena"

"Oh gitu, iya2. Gimana kabarnya? 

"Alhamdulillah baik, Deena?"

"Alhamdulillah, baik"

"dia, maaf masih sama...?"

" Eh, gak Deen, itu masa lalu, dosa lalu"

"Oh iya astagfirullah. Trus, kita berdua gini, gak dosa?"

"Oh iya, astagfirullah.  yaudah Hafiz ke teman-teman Hafiz lagi ya". 

"Oh iya, lanjut. Deena juga"

"Assalamu'alaikum Deen.."

"Waalaikumsalam"



Mereka berlalu pergi, momen kaya gitu langka sih, walaupun masih tinggal satu kota tetap aja kalau peluang berjumpa itu dikit banget. Si Deena anak rumahan banget, jadi ya kalau lagi libur begini paling banyak keluar dalam seminggu cuma sekali.  


By the way, lelaki itu Hafiz namanya, teman SMA nya Deena. Sebenarnya nih, kata Deena dia udah lupain tuh semuanya tentang Hafiz,KATANYA, haha. Tapi sih kayaknya gak tuh, hihi. Ketemu Hafiz, makin lagi deh. Setelah ketemu Hafiz mulai skill lama nadia timbul kembali haha. 

"Yaa,Allah. gak nyangka sih bisa jumpa. Hmm, mulai lagi mikirin yg gak2.."

(Mulai ngomong sendiri lagi haha)

"gini ya, siapa nama kamu? siapa? Hafiz oh iya. Aku tu masih ingat ya gimana-gimananya dulu, detailnya aku masih ingat banget. Yang baik2 sampai yang jahat2nya."

"Kamu tuh jahat, ih pokoknya gitulah. Ishh males ngomongin dia sebenarnya, ishh apasihhh kok jadi emosi astagfirullah"

Lah  si Deena, kenapa ya? Haha


"Tapi dia udah beda, bahasanya sekarang yang

 'Alhamdululillah',

'Masyaallah',

'Astagfirullah',

'Assalamu'alaikum..',

'Wa'alaikumsalam…' eh kok malah dijawab, haha". 

"Tapi dia udah beda, pakaiannya juga baju koko sampe lutut, Masha Allah."

"Kalau dipikir-pikir dia baik juga, mulai taat, mulai gak mau ikhtilat, hmm Deena suk..."

"…eh eh Deen,mulai ni..Astagfirullah''


"Indeed, Allah emang penuh kejutan ya, dan hidayah-Nya bisa nyampe ke siapa aja, selama itu yang Dia hendaki, kita manusia mana bisa cegah atau membelokkan hidayah itu ke orang yang kita mau."


Deena dan Hafiz sudah sama-sama dewasa, diantara mereka memang belum ada yang menikah. Tapi usia mereka sudah pantas untuk menikah. Semakin dewasa, mereka semakin sadar, bahwa didunia bukan untuk hidup enak, tapi untuk mati enak. Tentu saja, di usia mereka mulai aware nih masalah jodoh, yang pasti mereka menginginkan yang satu visi yaitu Ridho-Nya Allah Subhanahu wa ta'ala. Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, sesuai anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.


Lekat di pikiran masing-masing mereka : 

Allah SWT berfirman:


ุงَู„ْุฎَุจِูŠْุซٰุชُ ู„ِู„ْุฎَุจِูŠْุซِูŠْู†َ ูˆَุง ู„ْุฎَุจِูŠْุซُูˆْู†َ ู„ِู„ْุฎَุจِูŠْุซٰุชِ ۚ ูˆَุง ู„ุทَّูŠِّุจٰุชُ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจِูŠْู†َ ูˆَุง ู„ุทَّูŠِّุจُูˆْู†َ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจٰุชِ ۚ ุงُูˆู„ٰุٓฆِูƒَ ู…ُุจَุฑَّุกُูˆْู†َ ู…ِู…َّุง ูŠَู‚ُูˆْู„ُูˆْู†َ ۗ ู„َู‡ُู…ْ ู…َّุบْูِุฑَุฉٌ ูˆَّุฑِุฒْู‚ٌ ูƒَุฑِูŠْู…ٌ


"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga)."

(QS. An-Nur 24: Ayat 26)


Jadi, mereka sadar betul, jodoh mereka ya cerminan diri mereka. Keduanya terus berusaha memperbaiki diri, niatnya bukan semata biar dapat jodoh yang baik saja tapi lebih besar dari itu Ridho-Nya Allah Subhana wata'ala. Jalan yang tidak diRidhoi Allah seperti jalan pacaran akan memberikan resiko yang besar bagi masing-masing diri mereka. 

Pacaran, Allah sama sekali tidak suka dengan hal itu. Orang yang pacaran sama saja dengan orang yang tidak mematuhi ayat Al-qur'an. Mereka sekarang sudah sadar dan paham betul itu. 


(nada notifikasi instagram)) "Muhammad Hafiz meminta pertemanan"


Walaupun mereka pernah satu SMA, sampai hari ini mereka belum follow-follow-an. Deena sengaja private instagramnya, pilih-pilih sepertinya hihi. Kalau untuk laki-laki mungkin kalau teman sekolah atau kuliah, temannya keluarga di accept ya. Tapi kalau gak jelas, tidak dihiraukan. 


"Loh! ini Hafiz tadi malam?"

"Masya Allah bagus-bagus  ya galeri instagramnya"

"Hmm accept gak ya…" 

"Diakan teman SMA, yaudah gapapa kali ya"


Tak lama kemudian notif dm

"Assalamu'alaikum nadia.. follback ya, lumayan nambah followers 1" 

"waalaikumsalam, oh iya sip."


Sudah sampai situ saja, percakapan mereka. Deena sih mau ya percakapanya lebih lama, tapi dalam islam antara laki-laki dan perempuan kalau yang gak terlalu penting chat nya ya lebih baik jangan. 


Setelah chat singkat itu, Hafiz bergumam…

" Kok aku jadi kepikiran ya. Deena, hmm astagfirullah kalau dipikir aku memang jahat kali dulu. Ya Allah, maafin dulu jahat banget nyakitin hati anak gadis orang. Tapi, aku juga gak nyangka ternyata Deena hijrah juga, Masya Allah dianya makin...eh astagfirullah mulai ni…"

 

Sekarang, Hafiz menjalani S2 nya. Di usia yang masih terbilang muda, dia masih mengejar s2 nya, sedikit lagi gelar s2 di raihnya. Di Kampus yang sama ternyata ada masa lalu Hafiz, Laila. Gak nyangka juga bisa ketemu

Beberapa minggu kemudian, dikota yang berbeda...

Di perpustakaan kampus...

" Hafiz ya?(tangan Laila menyetuh pundak Hafiz)"

"(Menghindar dengan menepis tangan Laila) astagfirullah maaf mba, saya kaget"

"Eh iya gapapa, maaf ngangetin. Hafiz kan?"

"Iya,"

"Aku laila, ingat gak?"

"Oh iya ingat2."

" Kamu beda sekarang ya, baju udah sampe lutut, udah gak mau disentuh cewe lagi, hijrah ya?"

"Alhamdulillah laila"

"Udah nikah?" 

"Haha, belum ketemu jodohnya"

"Wah iya, Alhamdulillah kalau gitu"

"Maksudnya?"

"Eh gak๐Ÿ˜Œ kamu Fakultas mana?"

"Aku fakultas fisip S2"

" Udah S2 aja ya. Heran, padahal kamu dulu buka buku aja males"

"Haha iya, makin dewasa makin jadi lebih baik"

"Wah iya bener tuh,"

"Iya, kamu disini ngapain? Kuliah disini?"

"Eh gak kok, tadi nemenin kakak kesini. Dia kuliah disini S2 juga. Tapi dianya ada urusan, jadi pulang duluan deh. "

"Lah, emang boleh masuk?"

"Hehe, nego dikit sama penjaga perpus nya"

"Oh gitu ya.Laila, aku duluan ya. Udah dapat ni bukunya,"

"Oh iya,oke Hafiz"

"Assalamu'alaikum.."

"Waalaikumsalam.."


Laila itu masa lalu Hafiz, atau lebih tepatnya MANTAN. Hafiz tidak terlalu dekat dengan keluarga Laila, jadi Hafiz gak tau persis siapa kakaknya Laila. Kemudian, Laila masih sama, dengan celana kulot dan jilbab pashmina nya. Sementara itu Laila...


"Hafiz udah beda, makin aja mantan.."

"Dia hijrah kayanya, pasti kriterianya cewe udah beda."

"Gak bisa balikaaaan:("

 

Saat itu, Laila sedang berjalan, tak sadar ternyata ada pengendara motor melaju cepat merebut tas Laila, untung saja pengendara motor tersebut  tidak berhasil merebut tas Laila. Laila kemudian jatuh. 


"Aw, sakit,!"

"Lecet dikit nih, duh susah jalannya"


Dari kejauhan Deena…

"Astagfirullah, mba, mba gak papa? Eh Laila? Kamu Lailakan? Aku Deena temen SMA kamu."

"Eh Deena ya? Iya aku Laila"

"Ayok sini minggir dulu. Gak apa2kan?"

"gak kok, lecet dikit aja. Makasih ya Deena,"

"Iya santai aja, hihi."

"Btw, kamu hijrah juga ya?"

"Juga? Eh iya Alhamdululillah Laila"

"Iya tadi ku ketemu Hafiz di perpus, dia hijrah juga kayanya". 

"Loh Hafiz kuliah disini ternyata,  aku baru tau, Hafiz temen SMA kan ya? 

"hehe iyah Deen"

"Trus,kamu kuliah disini juga? "

"Bukan, nemenin kakak kok. Aku mutusin kerja, gak kuliah Deen"

"Oh gitu, kalau aku salah satu staff di kampus ini, Fakultas FKIP tepatnya."


Fakultas Fisip dan fkip itu jauh. Sedangkan kampus mereka itu luaaas buuanget. Kalau ke fakultas satu ke fakultas yang lain, enaknya pake motor hihi. Jadi ya pantes Deena dan Hafiz jarang jumpa. 


"Aku mau langsung pulang deh"

"Oh pulang? Iya gapapa deh biar istirahat"

"Emm boleh anterin gak? Aku masih susah ni jalannya, masih agak shock juga"

"Eh iya,  Iya ayuk Laila"


Beberapa menit kemudian….

"Nah, disini deen rumah aku"

"Oh, ternyata kamu pindah ke sini ya? rumah di hometown udah gak ada?"

"Eh ada kok, ini cuma untuk kakak dan aku aja. Kan kakakku kuliah disini dan Alhamdulillah aku punya kerjaan di sini juga, jadi kalau ngekos atau sewa rumah kan sayang uangnya. Jadi orang tua ku, mutusin untuk bangun rumah sederhana ini, biar gampang juga mereka kalau datang ngunjungin kita gituh"

"Oh, gituuu"

"Eh mampir gak?"

"Emm, gak duludeh, aku ada urusan lagi nih"

"Oh, gitu ya? Kapan2 harus mampir loh ya"

"Siiiip. Aku lanjut lagi ya, Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam. Hati2 rok nya"

"Eh iya, makasihh. Bye lailaa"

"Bye Deen"


Diatas motor, Deena…

"Laila, disini. Hafiz, disini. Emm, ehhh…"

"Apa nanti jadinya...ah tau ah"


Sementara itu Laila…

"Deena, deena, deena. Hmm, diakan dulu juga pernah ada something sama Hafiz. Cannot believe lah mereka sama-sama hijrah. Aku rasa sih, si Hafiz kriteria nya begitu, kaya Deena. Emm ehhh…"

"Apa aku juga rubah penampilan nih, biar si Hafiz jadi ehem"

"Ahh, aku mau jadi sering main ke kampus kaka ah"


Laila memutuskan untuk merubah penampilan nya agar tampak lebih syar'i, ia juga sering datang ke majiles ilmu. Niat nya cuma satu, biar Hafiz jadi suka. 


Di perpustakaan yang sama….

"Laila, Assalamu'alaikum…"

"Wa'alaikumsalam, eh Hafiz"

"Suka main ke sini ya?"

"Heheh, iya nih. Bukunya bagus2"

"Ma shaa Allah, Laila. Mutusin hijrah juga?"

"Eh iya, Alhamdulillah"

"Mantep2, semoga istiqomah ya"

"Iya aamiin."

"Eh iya, aku lanjut lagi ya? Buru-buru nih"

"Oh oke Hafiz, hati2 ya"

"Siip, Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam."



Setelah Hafiz pergi…

"Nah kan, jumpa Hafiz kalau sering ke sini"

"Aku mau sering-sering kesini lagi ahh, trus kajian juga dan segala macam"


Sementara itu, sebenarnya Hafiz sedang merencanakan pernikahan dengan perempuan pilihan orang tuanya. Bukan, bukan Deena. 


Di sebuah musholla…

"Deen, Assalamu'alaikum"

"Hafiz, wa'alaikumsalam. Eh ketemu disini."

"Iya, aku cari kamu"

"Kok tau aku ada disini?"

"Aku ketemu Laila kemarin, dia bilang kamu juga ada disini dan sering ke musholla ini"

"Oh, Laila. Iya iya. Trus ada apa?"

"Ehh Ini Deen. Datang ya"


"Hah?" Kata Deena di dalam hati. 

"Secepat ini? Aku tau, aku bukan siapa-siapa,  tapi kenapa rasanya sakit"

"Yaa Allah…"


"Deen?Deen?"

"Eh maaf-maaf"

"Datang ya,"

"Ma shaa Allah, Barakallah fiz. In shaa Allah aku datang"

"Alhamdulillah, iya Deen makasi ya. Oke aku lanjut lagi ya, Assalamu'alaikum…"

"Wa'alaikumsalam…"


Dada Deena sesak, "aku tahu, aku bukan siapa2. Aku tak berhak, tapi kenapa sangat sakit?"

"Hafiz sudah sangat berubah, dan aku tau sudah tidak mudah mencari laki-laki seperti dia, aku pernah berharap dia yang menemaniku hingga tua, Yaa Allah.."


Kita bisa memilih kepada siapa kita ingin menikah dengan siapa, kepada siapa hati kita condong dan suka. Tapi bagaimana pun, berusaha dan berjuang nya kita jika bukan jodohnya, kita tak bisa apa-apa. Ketika kita suka dengan sesuatu belum tentu baik untuk kita dan juga sebaliknya, Allah maha tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. 


Sementara itu Laila yang lebih dulu tahu tentang kabar pernikahan Hafiz. 

"Percuma aku berubah seperti ini, percuma…"

"Aku berubah untuk kamu, tapi kenapa kamu milih orang lain"


Guru yang selama ini mengajar Laila, mendengar gumaman Laila

"Kenapa?"

"Ustadzah, Laila sebenarnya berubah seperti ini untuk seorang lelaki. Pakaian ini, kajian ini, tapi ternyata…"

"Begini Laila, aku melihat bagaimana ternyata kamu salah dalam niat. Berubahlah karena Allah, bukan karena manusia. Allah itu cemburu, dan perubahan yang Laila lakukan selama ini tak ada gunanya sama sekali kalau hanya untuk seorang lelaki. In shaa Allah Laila, jika Laila mau berubah dari sekarang karena Allah bukan karena laki-laki. Allah akan beri Laila lelaki terbaik meskipun tanpa Laila minta"


Laila merenung memikirkan perkataan gurunya. Ia sadar selama ini ia berada diniat yang salah. 

Mulai hari itu, Laila semangat lagi untuk berubah karena Allah ta'ala. 


Kabar berhembus, Hafiz gagal menikah dengan perempuan pilihan orang tua nya. Perempuan tersebut meninggal dalam perjalanan nya dari Mesir ke Indonesia. Mengingat perempuan tersebut mengambil S2 di Mesir. Hafiz sangat sedih, ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. 


Setelah beberapa bulan diterpa kesedihan, Hafiz bangkit kembali dan mulai menata kembali study dan percintaan nya. 

"Aku teringat Laila, bagaimana kabarnya ya sekarang"


Hafiz mulai mencari tahu kabar Laila, ternyata Laila sudah menikah dengan lelaki yang di rekomendasikan dari gurunya. Hafiz merasa sedih, karena semenjak Laila memutuskan hijrah, Hafiz sempat ada niat untuk menghalalkannya, walaupun ternyata dia waktu itu telah memilih perempuan pilihan orang tua nya. 


"Emmm, ehhh… Laila sudah menikah, aku… emm"


Setelah beberapa minggu

Di sebuah perpustakaan 

Hafiz bersama adiknya  melihat Deena 

"Deena, itu Deena kan?"

''Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam. Eh Hafiz. Ah emm, itu  pasti istri kamu ya (kata Deena sambil menunjuk perempuan yang memegang berkas Hafiz. Selamat yaa, Maaf banget kemarin aku ga bisa datang"

"Deen, bukan, bukan. Itu sepupu aku."

"Oh, maaf-maaf, kirain itu istri kamu. Aku tak tau kamu punya adik perempuan yang hampir sama umurnya dengan kita"

"Aku tidak jadi menikah Deen. Dia meninggal ketika perjalanan menuju Indonesia."

"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Maaf, aku tak maksud buat…"

"Sudahlah, tak apa, itu sudah jalan-Nya. Tak apa deen"

"Eh iya fiz, In shaa Allah kamu dapat ganti yang lebih baik."


Tiba-tiba ada seorang laki-laki mendekati Deena

"Ini ya Deen, buku nya?"

"Nah, iya ini. Bener kok"

"Oke, berarti satu buku lagi ya"

"Iya bener."

"Oke Deen aku coba cari lagi"


Lalu…

"Eh, maaf-maaf Hafiz. Di anggurin"

"Deena udah menikah ya?" 

"Apa? Ehh? Ohh haha bukan, itu sepupuku, dia kuliah disini juga, ada tugas, jadi aku bantuiin cari buku nya"

"Oh, begitu Alhamdulillah."

"Emm? Ehh iya Alhamdulillah"


"Ehh emm gimana ya ngomong nya,"

"Ngomong? ngomong apa? Ngomong aja"

"Maaf deen, Ingat dulu di SMA aku pernah menyampaikan sesuatu padamu tepat ketika dikelas 2, di kelas mu?"

"Hah?" (pipi Deena memerah)

"Kini aku mau menyampaikan nya lagi"

"aaa, eemm ehh, fiz?"

"Sebenarnya semenjak, pertemuan kita di pasar malam lalu, aku mulai lagi memikirkan kamu, emm dan ya, rasa itu muncul lagi daan aku tahu ketika suka dengan seseorang jalanya cuma satu menikah"


Dada Deena berdegup lebih kencang. 


"Jadi Deen, aku berniat untuk ta'aruf kepada mu. Aku harap aku bisa kenal kamu lebih jauh, melebihi yang aku tau sekarang. Dan aku harap semuanya lancar, aku harap jodoh aku kamu"

"Ta ta'aruf?, Emm ehh iya iya aku mau"

"Alhamdulillah, nanti dikabari lagi ya Deen lewat perantara nya, aku sudah memilih siapa"

"Emm iya Hafiz"

"Emm, oke gitu aja. Aku lanjut ya, Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Deena, tak tahu bagaimana ia melukiskan kebahagiaan nya. Deena bersyukur kepada Allah, karena telah memberikan sesuatu yang manis setelah kepahitan yang dirasakannya. 

Setelah melewati proses ta'aruf selama 1 bulan. Hafiz mantap memilih Deena, mereka akhirnya menikah setelah itu dengan tujuan kedepan yang mengharap Ridho Allah Subhana wa ta'ala. Saling mencintai karena Allah, menerima apa adanya.


"Alhamdulillah, kita sudah sah"

"emm, iya Alhamdulillah."

"Aku masih gak nyangka Deen, ternyata…"

"Iya fiz, aku juga gak nyangka bagaimana Allah mengatur semuanya hingga jadi seperti ini"

"Mulai hari Deen, aku pakaian mu dan kamu pakaian ku. Kita saling melengkapi dan melindungi."

"Iya, In shaa Allah, aku akan selalu bersamamu menikmati segala kekurangan dan kelebihanmu"

"Iya, Deen"


Deena dan Hafiz akhirnya hidup sama-samakan? Gak ada yang gak mungkin. Gini, kalau kita berusaha berubah jadi baik karena Allah, mengakui kesalahan dan tak ingin mengulangi nya lagi. Mengenai jodoh, itu adalah takdir yang di ikhtiarkan, jika kamu baik In shaa Allah dapat yang baik juga, kaya Deena sama Hafiz. Maukan kaya mereka? Yok ayok, perbaiki diri lagi karena Allah. Bukankah masuk surga harus punya partner yang baik?


---------------------------------







No comments:

Post a Comment

A SHORT STORY : CINTANYA DEENA

Di keramaian pasar malam… "Eh, Hai" "Hai, eh maaf siapa ya?" "Masa ga ingat?" "Mmm" "Aku Hafiz...